SURABAYA, 8 November 2026 – Media Indonesia Times | Pertemuan sederhana terkadang mampu melahirkan gagasan besar. Itulah yang tergambar dari perjumpaan Aiptu Affan Hermansyah, anggota Bhabinkamtibmas Polsek Pabean Cantikan, dengan seorang warga bernama Gus Amak di Stasiun Gubeng Surabaya pada 11 Oktober 2026.
Pertemuan yang bermula dari suasana santai di tengah aktivitas perjalanan kereta api tersebut ternyata berkembang menjadi sebuah jalinan silaturahmi sekaligus ruang pertukaran pandangan mengenai pelayanan publik, khususnya transformasi pelayanan transportasi perkeretaapian di Indonesia.
Saat itu, keduanya tengah bersiap melakukan perjalanan menuju Malang. Tidak ada agenda khusus ataupun pertemuan formal yang direncanakan. Namun, dari percakapan sederhana di lingkungan stasiun, terbangun komunikasi yang kemudian berkembang menjadi diskusi lebih luas tentang perubahan, pelayanan, dan pentingnya memberikan apresiasi terhadap institusi yang menunjukkan upaya perbaikan.
Sosok Aiptu Affan Hermansyah sendiri dikenal sebagai anggota Bhabinkamtibmas yang aktif menjalankan tugas pelayanan dan kedekatan dengan masyarakat. Di luar tugas kedinasannya, ia juga dikenal memiliki aktivitas dalam bidang pengobatan alternatif. Karakter humanis dan komunikasi sosial menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat.
Dalam sebuah kesempatan dialog bersama jejaring media, Affan menyampaikan pandangan yang menarik sekaligus relevan dengan perkembangan dunia jurnalistik saat ini. Ia mengajak insan pers agar tidak hanya memberikan perhatian terhadap persoalan, kritik, maupun kekurangan pelayanan publik, tetapi juga berani mengangkat berbagai perubahan positif yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Salah satu institusi yang menurutnya layak mendapatkan perhatian tersebut adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero).
STASIUN GUBENG DAN WAJAH BARU PELAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK
Bagi Affan, pengalaman langsung ketika berada di Stasiun Gubeng Surabaya memberikan kesan tersendiri. Ia melihat adanya perubahan pada kondisi lingkungan stasiun, mulai dari kebersihan, keasrian kawasan, hingga penataan fasilitas yang dinilainya semakin tertib dan memberikan kenyamanan bagi pengguna jasa kereta api.
Perubahan tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari wajah pelayanan publik yang patut mendapatkan perhatian masyarakat.
Stasiun bukan sekadar tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang. Lebih dari itu, stasiun merupakan ruang pelayanan publik yang setiap hari mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dengan kebutuhan, tujuan, dan kepentingan yang berbeda.
Karena itu, kebersihan lingkungan, keteraturan fasilitas, kenyamanan ruang tunggu, serta kualitas pelayanan menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik.
Affan menilai, ketika sebuah institusi menunjukkan perubahan yang dapat diamati dan dirasakan langsung oleh masyarakat, sudah selayaknya perubahan tersebut mendapatkan ruang pemberitaan yang proporsional.
“Kalau memang kondisinya sudah baik dan itu nyata dirasakan masyarakat, kenapa tidak kita bantu suarakan? Media juga punya peran penting memberikan apresiasi demi mendorong keberlanjutan perbaikan di KAI,” ujar Affan dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan itu menjadi pesan sederhana, tetapi memiliki makna yang cukup mendalam: kritik diperlukan untuk memperbaiki kekurangan, sementara apresiasi diperlukan untuk menghargai kemajuan dan mendorong keberlanjutan perubahan.
MEDIA BUKAN HANYA MENGKRITIK, TETAPI JUGA MENGAPRESIASI PERUBAHAN POSITIF
Dalam ekosistem demokrasi, pers memiliki kedudukan strategis sebagai penyampai informasi, pengawas kekuasaan, sekaligus jembatan komunikasi antara masyarakat dan penyelenggara pelayanan publik.
Fungsi kontrol sosial merupakan salah satu pilar penting jurnalistik. Namun, menjalankan fungsi kontrol bukan berarti seluruh pemberitaan harus selalu berangkat dari persoalan, konflik, atau kekurangan.
Pemberitaan mengenai keberhasilan, inovasi, pembenahan, dan peningkatan kualitas pelayanan juga merupakan bagian dari tanggung jawab media dalam menyajikan informasi yang berimbang kepada publik.
Di sinilah pesan Affan menemukan relevansinya.
Menurut semangat yang ia sampaikan, media sepatutnya memiliki keberanian yang sama dalam memberitakan kekurangan maupun mengapresiasi perubahan positif. Bukan untuk menjadi corong kepentingan institusi tertentu, melainkan untuk menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai realitas pelayanan publik.
Apresiasi harus tetap berangkat dari fakta, pengalaman nyata, dan pengamatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, pemberitaan positif tidak kehilangan independensinya, sebagaimana kritik juga tidak boleh kehilangan objektivitasnya.
Sebab, media yang berkualitas bukan hanya mampu mengungkap persoalan, tetapi juga mampu mengenali perubahan, menyampaikan inspirasi, dan menghadirkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
APRESIASI SEBAGAI ENERGI UNTUK KEBERLANJUTAN PEMBENAHAN
Apa yang disampaikan Affan juga membuka perspektif lebih luas mengenai hubungan antara masyarakat, media, dan institusi pelayanan publik.
Pelayanan publik yang berkualitas tidak lahir hanya dari kebijakan di atas kertas. Ia membutuhkan konsistensi, kedisiplinan, evaluasi, serta kesediaan untuk terus mendengarkan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks perkeretaapian, peningkatan kebersihan, kenyamanan, keteraturan, dan kualitas fasilitas merupakan aspek yang berhubungan langsung dengan pengalaman pengguna jasa.
Ketika perubahan positif benar-benar hadir, apresiasi masyarakat dapat menjadi dorongan moral bagi keberlanjutan pembenahan. Sebaliknya, ketika masih ditemukan kekurangan, kritik yang objektif tetap diperlukan sebagai bahan evaluasi.
Dua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan.
Justru, budaya kritik yang sehat dan apresiasi yang proporsional dapat menjadi bagian dari ekosistem pengawasan publik yang konstruktif.
PT Kereta Api Indonesia sebagai penyelenggara layanan transportasi publik memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga standar pelayanan dan memastikan bahwa kenyamanan masyarakat menjadi prioritas yang berkelanjutan.
DARI PERON STASIUN GUBENG, LAHIR PESAN SEDERHANA TENTANG PENGABDIAN
Kisah pertemuan Aiptu Affan Hermansyah dan Gus Amak di Stasiun Gubeng pada akhirnya bukan semata-mata cerita tentang dua orang yang kebetulan melakukan perjalanan menuju Malang.
Ada pesan sosial yang lebih luas dari perjumpaan tersebut: bahwa kepedulian terhadap pelayanan publik dapat tumbuh dari pengalaman sederhana, percakapan sehari-hari, dan keberanian menyampaikan pandangan yang konstruktif.
Bagi seorang anggota Bhabinkamtibmas, kedekatan dengan masyarakat merupakan bagian penting dari pengabdian. Sementara bagi insan pers, menyampaikan informasi secara objektif, kritis, dan berimbang merupakan tanggung jawab profesional yang tidak boleh ditinggalkan.
Keduanya memiliki ruang pengabdian masing-masing, tetapi dapat bertemu dalam satu kepentingan bersama, yakni mendorong terciptanya pelayanan publik yang semakin baik.
Pesan yang muncul dari Stasiun Gubeng tersebut patut menjadi bahan refleksi bersama.
Bahwa membangun bangsa tidak selalu harus dimulai dengan gagasan besar atau peristiwa monumental. Terkadang, perubahan justru tumbuh dari keberanian mengakui hal-hal baik, memberikan apresiasi secara jujur, dan tetap menjaga sikap kritis terhadap setiap kekurangan.
Kritik adalah bagian dari perbaikan. Apresiasi adalah penghargaan terhadap kemajuan. Keduanya merupakan kekuatan penting untuk membangun pelayanan publik yang semakin berkualitas.
Dari sebuah pertemuan sederhana di Stasiun Gubeng Surabaya, Aiptu Affan Hermansyah menyampaikan pesan yang patut direnungkan: jangan hanya ramai memberitakan ketika pelayanan publik bermasalah, tetapi berikan pula ruang yang layak ketika perubahan positif benar-benar hadir dan dirasakan masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan publik bukanlah seberapa banyak pujian yang diterima sebuah institusi, melainkan seberapa besar manfaat, kenyamanan, dan kepuasan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pelayanan yang baik layak diapresiasi. Kekurangan tetap harus dikritisi. Dan kepentingan masyarakat harus selalu menjadi tujuan utama. (Bagas)
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta