Kabar Baru
Kapolres Pohuwato Pimpin Rotasi Jabatan, Ini Pesan Pentingnya untuk Pejabat Baru
NTPN Tak Ada, 29 Tahun Bayar Pajak Dianggap Nol: FASIS Pertanyakan Ke Mana Uang Warga Surat Ijo"?"
Pastikan Pembangunan Optimal, Danrem 084/BJ Lakukan Peninjauan di Sejumlah Lokasi
Puncak Puthuk Giri, Menelusuri Jejak Ibu Sang Wali di Bumi Blambangan
Gerakan Indonesia ASRI : Polres Probolinggo Gelar Aksi Penghijauan Pulihkan Lahan Kritis
Polres Lamongan Perkuat Sinergi Dengan Masyarakat Lewat “Sabuk Kamtibmas"
Kapolres Pohuwato Pimpin Rotasi Jabatan, Ini Pesan Pentingnya untuk Pejabat Baru
NTPN Tak Ada, 29 Tahun Bayar Pajak Dianggap Nol: FASIS Pertanyakan Ke Mana Uang Warga Surat Ijo"?"
Pastikan Pembangunan Optimal, Danrem 084/BJ Lakukan Peninjauan di Sejumlah Lokasi
Puncak Puthuk Giri, Menelusuri Jejak Ibu Sang Wali di Bumi Blambangan
Gerakan Indonesia ASRI : Polres Probolinggo Gelar Aksi Penghijauan Pulihkan Lahan Kritis
Polres Lamongan Perkuat Sinergi Dengan Masyarakat Lewat “Sabuk Kamtibmas"
Memuat cuaca...
Opini

Toko Modern dan Warung Kecil di Banyuwangi

Toko Modern dan Warung Kecil di Banyuwangi
oleh : Syafaat Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi

Malam di Banyuwangi bukan sekadar gelap yang menutupi jalan, melainkan hadir dengan cara yang tenang dan diam-diam memperhatikan. Ia bergerak tanpa terburu-buru, seperti seorang tetua yang duduk di beranda rumah, memandang hiruk-pikuk manusia dengan mata yang sudah terbiasa menyaksikan perubahan. Langit di atas kadang berat dan murung, kadang lapang dan bersahabat. Di sana, malam merajut percakapan menjadi benang doa yang tak selalu lengkap diucapkan. Pada malam itu, saya hanyalah seorang pengamat di emperan, menangkap serpihan kata yang jatuh dari lingkaran diskusi yang, bagi sebagian orang, dianggap penting.

Acara itu dinamai Tandang Bareng: Evaluasi, Partisipasi, dan Penguatan Peran Masyarakat dalam Pelayanan Publik. Nama yang hangat, seolah mengundang siapa saja untuk hadir dan berbagi cerita. Namun, seperti ruang terbuka lainnya, ia tetap memiliki batas tak kasat mata. Di dalamnya duduk para pejabat, tokoh masyarakat, dan aktivis yang terbiasa berbicara atas nama banyak orang. Di luar lingkaran, ada saya, dan mungkin banyak orang lain hanya ingin mendengar tanpa ikut menuntun arus pembicaraan. Dari jarak itu, suara terdengar lebih jelas. Sebab jarak memberi ruang bagi keraguan, dan dari keraguan itulah pemahaman perlahan lahir.

Diskusi malam itu mengalir pada sesuatu yang sederhana di atas kertas, namun rumit dalam kehidupan nyata: pembatasan jam operasional swalayan dan toko modern. Di dokumen resmi, tertulis rapi dengan nomor dan tanda tangan, ia tampak sebagai keputusan administratif biasa. Namun di meja diskusi, ia hidup: dipertanyakan, diperdebatkan, dan dirasakan. Keberatan muncul, terdengar lembut namun tegas, seperti api kecil yang enggan padam. “Ini tidak adil,” ujar seorang peserta. Kata “adil” itu seperti bayangan yang berubah sesuai perspektif. Di satu sisi, pembatasan tampak menghambat geliat pariwisata yang selama ini dijaga. Kota yang terbuka bagi pengunjung kini menata batas, seolah membatasi denyut ekonomi. Bukankah wisatawan datang tanpa melihat jam? Bukankah kota hidup seharusnya selalu siap melayani? Namun dari sisi lain, ada suara lembut yang menekankan bahwa kota bukan hanya untuk pengunjung, tapi juga bagi mereka yang tinggal. Bahwa di balik cahaya toko modern, ada bayangan warung kecil yang perlahan terpinggirkan. Persaingan tidak selalu adil, dan kebijakan ini lebih dari sekadar soal jam buka; ia soal siapa yang diberi ruang untuk bertahan dan siapa yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan.

Seorang pembicara menyampaikan pandangannya dengan tenang, kalimatnya menetap di udara: “Kalau kita bicara keadilan, lihat juga mereka yang tak punya daya.” Kata-kata itu membuka ruang hening, memaksa mata melihat hal-hal yang sering terabaikan. Warung kecil, toko kelontong, pedagang sederhana, mereka adalah denyut ekonomi rakyat yang paling jujur. Tidak ada pendingin, sistem inventori canggih, atau promosi besar. Tapi ada kedekatan: pembeli bukan sekadar angka, melainkan tetangga, kerabat, wajah yang dikenal. Ada kepercayaan dan utang kecil yang dimaklumi.

Modernitas bergerak dengan logikanya sendiri: efisiensi, kecepatan, kepastian. Toko modern hadir dengan janji sederhana: apa yang Anda butuhkan tersedia, kapan pun Anda datang. Di tengah dua realitas itu, pembatasan jam operasional adalah upaya menahan laju yang terlalu cepat bukan menghentikannya, tapi memberi napas bagi yang tertinggal. Tapi pertanyaannya tetap rumit: apakah membatasi yang besar cara terbaik melindungi yang kecil? Atau hanya tanda bahwa kita belum mampu menciptakan persaingan sehat?

Di emperan itu, jawaban pasti tak ditemukan. Yang ada adalah kesadaran: setiap pilihan membawa konsekuensi. Membiarkan toko modern tanpa batas bisa mempercepat pertumbuhan, tapi memperlebar jarak antara yang kuat dan yang lemah. Membatasi mereka memberi napas bagi yang kecil, tapi mengurangi kenyamanan yang sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Seorang aktivis menyoroti aliran pajak, bagaimana keuntungan toko besar tidak sepenuhnya kembali ke daerah. Di sisi lain, suara sederhana muncul: “Kalau tengah malam butuh sesuatu, harus ke mana?” Sebuah pertanyaan tulus, mengingatkan bahwa kebutuhan tidak menunggu jadwal.

Diskusi terus memutar di antara dua kutub: melindungi atau melayani, idealisme atau kenyamanan, masa lalu yang ingin dipertahankan atau masa depan yang tak bisa ditahan. Kopi di tangan mulai mendingin. Pahitnya meninggalkan rasa sadar: kebijakan tidak bisa menuntaskan kompleksitas. Kehidupan tidak memberi semuanya sekaligus. Keadilan bukan hanya menyetarakan, tapi menjaga agar tidak ada yang sepenuhnya hilang.

Malam akhirnya larut, percakapan mereda bukan karena semua sepakat, tapi karena waktu menuntut berhenti. Dari emperan itu, saya menyadari satu hal: keberadaan yang kecil tidak bisa dianggap remeh. Saat yang kecil hilang, bukan sekadar usaha yang lenyap, tapi juga cara hidup cara kita saling mengenal dan membangun kepercayaan sederhana. Kota dengan gedung tinggi dan sistem rapi mungkin modern, tapi bisa kehilangan sesuatu yang halus, yang tak diukur angka, tapi terasa dalam keseharian. Di antara terang toko modern dan redup warung kecil, kita sedang memilih kehidupan seperti apa yang ingin dijalani. Pilihan itu tidak harus ekstrem, tidak harus meniadakan satu sisi. Yang dibutuhkan adalah pemberdayaan, memberi ruang bagi yang kecil untuk bertahan sekaligus bersaing dengan caranya sendiri. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan kebijakan berkelanjutan.

Dari emperan itu, saya belajar sambil nyruput kopi: mendengar adalah memahami. Setiap perdebatan punya lapisan yang tersembunyi, dan keadilan bukan soal kesamaan, tapi menjaga agar tidak ada yang hilang. Malam di Banyuwangi kembali pada tenangnya, tapi bagi saya, ia meninggalkan jejak: kesadaran bahwa kehidupan sosial selalu berada di tarik-menarik yang tak pernah selesai. Dan kita, sekecil apa pun peran kita, menentukan arah kota ini tetap hidup dan bernafas.(**)

Penulis Idham Holid
Editor Idham Holid
Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!