BALI, 3 Oktober 2026 — Ketika dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling terhubung, pendidikan generasi muda tidak lagi cukup berhenti pada penguasaan pengetahuan akademik. Kemampuan memahami perbedaan, membangun argumentasi, bernegosiasi, mendengarkan perspektif lain, serta mencari titik temu menjadi bagian penting dari kompetensi global.
Semangat itulah yang tercermin dalam penyelenggaraan Asia World Model United Nations (AWMUN) di Bali, sebuah konferensi simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempertemukan pelajar dan pemuda dari berbagai latar belakang dalam sebuah pengalaman diplomasi internasional.
Dalam forum tersebut, Dominic hadir sebagai delegasi yang mewakili Surabaya Intercultural School. Keikutsertaannya menempatkan seorang pelajar dari Surabaya dalam lingkungan pembelajaran yang mensimulasikan bagaimana diplomasi internasional bekerja sebuah pengalaman yang mempertemukan pendidikan, kepemimpinan, komunikasi, riset, dan pemahaman terhadap isu-isu global.
*Bukan Sekadar Simulasi Sidang*
Model United Nations atau MUN pada dasarnya merupakan metode pembelajaran berbasis pengalaman. Para peserta tidak hanya duduk sebagai pendengar, tetapi mengambil peran sebagai delegasi yang harus memahami isu, menyusun posisi, menyampaikan pandangan, serta berinteraksi dengan delegasi lainnya.
Dalam proses tersebut, peserta dituntut untuk melakukan riset dan membangun argumentasi berdasarkan informasi yang relevan. Mereka juga belajar bahwa dalam diplomasi, kemampuan menyampaikan pendapat harus berjalan beriringan dengan kemampuan mendengarkan.
Perbedaan pandangan bukan selalu berarti konflik.
Justru melalui perbedaan itulah proses negosiasi, kompromi, dan pencarian solusi dapat berlangsung.
Karena itu, AWMUN memberikan pengalaman pendidikan yang melampaui ruang kelas. Peserta diperkenalkan pada cara berpikir yang lebih sistematis mengenai persoalan internasional sekaligus belajar memahami bahwa sebuah masalah global hampir selalu memiliki lebih dari satu perspektif.
*Dominic dan Pengalaman Menjadi Bagian dari Komunitas Global*
Bagi Dominic, keikutsertaan dalam AWMUN menjadi kesempatan untuk membawa nama Surabaya Intercultural School ke dalam forum yang mempertemukan generasi muda dengan beragam latar belakang.
Identitas sebagai pelajar dari Surabaya menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Di tengah lingkungan internasional, setiap delegasi memiliki kesempatan untuk memperkenalkan perspektif, gagasan, dan pengalaman yang berasal dari lingkungan pendidikannya masing-masing.
Di sinilah nilai penting sebuah forum seperti AWMUN.
Globalisasi tidak hanya berarti kemampuan berbicara dalam bahasa internasional atau mengenal negara lain. Globalisasi juga menuntut kemampuan memahami bahwa masyarakat dunia memiliki sejarah, budaya, kepentingan, dan cara pandang yang berbeda.
Bagi pelajar, pengalaman tersebut dapat menjadi proses pembentukan karakter yang penting: belajar percaya diri tanpa kehilangan kemampuan untuk menghargai perspektif orang lain.
*Pendidikan Diplomasi untuk Generasi Masa Depan*
Diplomasi sering kali dipahami sebagai dunia yang jauh dari kehidupan pelajar. Padahal prinsip-prinsip diplomasi sesungguhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain.
Mendengarkan sebelum mengambil keputusan.
Memahami kepentingan pihak lain.
Mencari solusi ketika terjadi perbedaan.
Dan membangun kesepakatan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Semua kemampuan tersebut merupakan bagian dari soft skills yang semakin penting dalam dunia pendidikan dan profesional.
Melalui MUN, peserta memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan tersebut dalam lingkungan yang terstruktur.
Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Dalam diplomasi, kepemimpinan juga berarti mampu menghubungkan berbagai kepentingan dan mengubah perbedaan menjadi peluang untuk menemukan solusi.
*Bali sebagai Ruang Pertemuan Generasi Global*
Bali memberikan konteks yang menarik bagi penyelenggaraan forum internasional semacam AWMUN.
Sebagai salah satu destinasi global Indonesia, Bali selama bertahun-tahun menjadi ruang pertemuan masyarakat internasional. Kehadiran pelajar dan pemuda dari berbagai latar belakang di pulau tersebut memperluas fungsi Bali bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengalaman lintas budaya.
Dalam konteks itu, AWMUN menjadi sebuah laboratorium pendidikan global.
Peserta datang dengan latar belakang berbeda, kemudian bertemu dalam satu forum dengan aturan komunikasi, prosedur persidangan, dan tujuan bersama.
Mereka belajar bahwa dunia tidak selalu berjalan dengan satu suara.
Namun dunia dapat bergerak maju ketika perbedaan dikelola melalui dialog.
*Dari Ruang Kelas Menuju Panggung Global*
Kehadiran Dominic dalam AWMUN pada akhirnya bukan semata tentang sebuah konferensi atau simulasi sidang PBB.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut merepresentasikan perubahan cara pendidikan mempersiapkan generasi muda.
Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat memperoleh nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk membangun keberanian berpikir, kemampuan berkomunikasi, kesadaran lintas budaya, dan kesiapan menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Dari Surabaya, Dominic membawa pengalaman sekolahnya menuju sebuah forum internasional di Bali.
Di sana, ia tidak hanya belajar mengenai diplomasi.
Ia belajar mengenai dunia.
Tentang bagaimana perbedaan dapat dipertemukan.
Tentang bagaimana sebuah gagasan harus diperjuangkan dengan argumentasi, bukan sekadar suara.
Dan tentang bagaimana generasi muda dapat mulai mengambil peran dalam percakapan global jauh sebelum mereka memasuki dunia profesional.
Pada akhirnya, nilai terbesar dari AWMUN mungkin bukan terletak pada seberapa kuat seorang delegasi memenangkan perdebatan.
Melainkan pada seberapa jauh pengalaman tersebut mampu membentuk generasi yang berpikir kritis, berwawasan global, menghargai keberagaman, dan memiliki keberanian untuk berkontribusi.
Karena diplomasi masa depan tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan atau meja perundingan antarnegara.
Ia bisa dimulai dari ruang kelas dan dari seorang pelajar yang berani berdiri, berbicara, mendengarkan, lalu belajar memahami dunia. (Bagas)
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta